Minggu, 29 Juni 2014

Lagu yang Berhubungan dengan Manusia dan Harapan

Ipang - Ada Yang Hilang
 
Aku hanya bisa terdiam
Melihat kau pergi dari sisiku
Dari sampingku
Tinggalkan aku seakan semuanya
Yang pernah terjadi
Tak lagi kau rasa

Masih adakah tentang aku
Di hatimu yang kau rasakan
Coba kau rasakan
Mudahkah bagimu untuk hapuskan
Semua kenangan bersama denganku
Tak pernah sedikit pun
Aku bayangkan betapa hebatnya
Cinta yang kau tanamkan

(I)
Hingga waktu beranjak pergi
Kau mampu hancurkan hatiku

Reff :
Ada yang hilang dari perasaanku
Yang terlanjur sudah
Kuberikan padamu
Ternyata aku tak berarti tanpamu
Berharap kau tetap di sini
Berharap dan berharap lagi

Back to : (I), Reff 

Cerpen yang Berhubungan dengan Manusia dan Harapan


Harapan Kecil yang Membuat Berhasil

    Di saat seorang yang kau percaya berkata hidupmu tak lama lagi, air matamu akan berjatuhan. Putus asa, dalam hatimu tak ada lagi harapan. Ketika semua orang menangisimu, menunggu sampai dirimu akan menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya, dirimu akan merelakan semuanya, dan berharap malaikat penyabut nyawa segera datang. Di sisi lain, dirimu akan merasa apa yang kau lakukan di dunia ini masih belum sempurna, masih banyak tanggungan yang harus diselesaikan.
            Melihat air mata orang-orang yang benar tulus mencintaiku, hatiku makin sakit. Aku belum sempat membahagiakan mereka. Dan mengingat, gelar yang terukir di namaku pun masih belum sepenuhnya teraih. Mengetahui kenyataan 99,999% penyakitku mematikan, harapanku untuk hidup lebih lama lagi kosong.
            Dimulai dengan kecelakaan kecil, yang akhirnya aku berhasil bangkit lagi, tetapi mimpi buruk kembali datang dan harapanku hilang. Menjalani kenyataan hidup yang begitu menyakitkan dan sulit, langkahku perlahan menjadi lemah, tak sanggup menopang tubuhku yang akhirnya rebah.
            “Hebat! Benar-benar hebat! Kamu memang penari paling hebat yang pernah kutemui!”
            “Ikutlah kompetisi internasional sekali waktu supaya bakatmu makin terasah!”
            Pujian kudengar dari balik pintu ruang ganti. Aku tersenyum bahagia. 1 sajian tarian yang aku dan sahabatku bawakan dipuji orang banyak. Walaupun bukan aku yang dapat pujian secara langsung, aku cukup senang karena sahabatku pun dipuji. Ketika ia bahagia, aku pun bahagia.
            “Hei, semua orang suka dengan tarian kita.”, kata sahabatku dengan girang ketika aku selesai berganti pakaian.
            “Kau memang hebat! Selamat!”, jawabku sambil tersenyum ke arahnya.
            “Mmm.. tidak.”, ia menggelengkan kepalanya. “Kau pun hebat. Tanpa kamu, tarian kita takkan jadi hebat.”, ia memelukku.
            Pelukan seorang sahabat kurasakan sangat nyaman. Aku tersenyum bahagia. Semenjak ayahku tak dapat kupercaya lagi, Rena adalah orang yang paling kupercaya. Saat aku kehilangan kasih sayang seorang ayah, Rena mengasihiku seperti seorang ayah mengasihi anaknya. 100% aku percaya padanya.
            Ia dan aku adalah yang terkuat di sanggar. Pelatih kami selalu memilih kami dalam pentas-pentas untuk membawakan tarian utama yang biasanya ada di akhir acara. Dalam pikiranku, tak pernah terbesit ia adalah pesaingku dan aku harus mengalahkan dia. Karena yang ada di pikiranku adalah, ia sahabatku, dan kami akan menjadi yang terbaik bersama-sama.
            Kehadirannya di sampingku selalu memotivasiku untuk bersemangat. Ia mungkin salah satu alasanku untuk hidup selain balet. Namun, ia dan belat saling berkaitan. Penari balet yang mengenalkanku pada tarian eropa ini adalah dia. Dia yang sudah hebat sejak kecil.
            “Minum dulu! Pasti capek.”, ia menyodorkanku sebotol air mineral.
            Aku menerimanya sambil tersenyum. Ia duduk di sampingku dan mulai bercerita. Sesaat kemudian ia bangkit lagi dan mulai berlatih tunggal di depan semua murid. Lenggak-lenggok gerakannya benar-benar menyihir semua mata. Latihan ini untuk penampilan tunggalnya di pentas mendatang. Aku mendorongnya agar tampil tunggal. Awalnya ia mengajakku turut serta, tapi aku tidak mau, aku harus membiarkan bakatnya melusut tanpa ada aku yang menghambatnya.
            Setelah latihan yang menyenangkan, kami pulang bersama. Ia terus bercerita sepanjang perjalanan. Aku mendengarnya hanya diam dan tersenyum. Aku memang tak banyak bicara bila di sampingnya, aku hanya berusaha menjadi pendengar yang baik untuknya, setelah semua perhatian yang ia lakukan untukku.
            “Pentas tinggal 2 minggu lagi. Wah, aku sudah gak sabar!”, ia bercerita dengan semangat. “Bagimana dengan penampilan tunggalku waktu pembukaan, ya?”
            “Pasti hebat.”, aku berusaha membuat ia semakin semangat.
            “Iya. Tapi lebih hebat lagi kalau kamu juga ikut tampil. Tapi tak apa lah. Toh kita juga nanti tampil berdua lagi di akhir, ya kan?”
            Dalam suatu pentas pasti ada 1 sajian yang menampilkan kami berdua. Seluruh sanggar sudah tahu kami bersahabat sejak lama dan ingin memanfaatkan keadaan ini untuk membuat sebuah sajian tarian yang menggambarkan persahabatan kami. Untuk kali ini, kami membawakan tarian yang agak sulit menurutku. Kami telah berlatih keras dan berharap akan menjadi sesuatu yang hebat.
            “Ren, kamu sampai sini aja! Rumahku kan sudah deket. Kamu langsung pulang aja!”
            “Gak ah, aku temenin kamu sampai kamu masuk rumah pokoknya.”
            “Gak apa-apa lah, rumahku udah deket kok.”
            “Ya udah deh. Daahh. Besok jangan lupa ada latihan lagi ya!”
            Aku tersenyum padanya dan berlari menuju rumah. Namun, mimpi buruk menghampiriku. Benda keras dan besar menabrakku sambil membunyikan klakson. Suara teriakan keras sahabatku kudengar sekilas di telingaku ketika kulihat diriku sudah berbaring di tengah jalan. Semua orang mengelilingiku dan ada yang mengangkatku. Sejak detik itu, aku tak sadarkan diri.
            Saat kubuka mataku, aku merasa ada yang menggenggam tanganku dan kudengar tangisannya. Rena, ia menangis sampai tak sadar aku sudah membuka mataku. Dan aku terkejut, melihat balutan perban di pergelangan kaki kananku. Dan kurasakan sakit luar biasa di balik balutan perban itu.
            “Emma, kamu sudah sadar?”, ia akhirnya menyadari aku sudah tersadar. Ia mulai menghapus air matanya yang sudah membuat matanya memerah. “Bagaimana keadaanmu?”
            Sakit hatiku melihat Rena menangis karenaku. Aku sungguh benci melihat air mata yang membasahi pipi sahabatku. Aku ingin menghapusnya, tetapi tanganku lemah dan sama sekali tak mampu bahkan untuk digerakkan.
            “Kamu.. Tahu aku ditabrak truk tadi? Bukannya sudah pulang lebih dulu?” Walaupun sangat lemah, aku berusaha bicara padanya.
            “Aku perhatikan kamu dari jauh. Untungnya supir truk tadi mau bawa kamu ke rumah sakit. Syukur kamu sudah gak apa-apa.”, ia tersenyum padaku dan sinar matanya membuat hatiku nyaman.
            “Tapi…”, aku sadar kakiku ada masalah. “Kakiku kenapa? Apa kata dokter?”
            Ia terdiam, dan air matanya tumpah lagi. Hatiku semakin terpukul melihatnya sedih, seakan seseuatu yang besar menimpaku. Ia bercerita dengan menangis hingga tak seberapa jelas kudengar suaranya. Hanya kata patah tulang yang kudengar. Aku lemas tak dapat berbuat apa-apa.
            Patah tulang. Sungguh masalah serius, melihat 2 minggu mendatang aku harus tampil dengan Rena di pentas itu. Perjuanganku latihan selama 3 bulan sia-sia dengan kecelakaan ini. Aku benar-benar ceroboh. Hatiku berteriak. Aku sungguh menyesal karena terlalu ceroboh langsung berlari menyeberang jalan tanpa melihat jalan dahulu. Sekarang aku membuat semua orang khawatir.
            “Jangan menangis Emma! Kamu harus kuat!”, ia menghapus air mataku yang mulai jatuh.
            “Maaf buat kamu khawatir. Maaf gak bisa nemani kamu tampil 2 minggu ke depan, bahkan buat datang untuk lihat kamu tampil. Aku memang bukan temen yang baik. Aku terlalu ceroboh.”
            Ia hanya bisa menangis. Tapi dari tangisannya, kulihat ia sangat menyayangiku, dan aku sangat bersyukur memiliki sahabat sepertinya.
            Seminggu berlalu setelah kecelakaan menyeramkan itu. Rena selalu datang untuk menemaniku terapi. Ia menguatkanku dan membuat aku merasa yakin kalau aku bisa sembuh. Waktu 2 minggu yang tak mungkin bagiku untuk kembali sembuh serasa mungkin ketika aku melihat senyumannya melihatku berangsur-angsur membaik.
            Seminggu ini, aku sudah bisa berjalan walaupun perlahan dan tidak bisa berdiri terlalu lama. Dokter geleng-geleng kepala melihat senyum ceriaku setiap hari dan melihat perkembanganku yang sangat cepat membaik. Aku memaksa dokter untuk datang ke sanggar, ganti menemani sahabatku berlatih.
            Akhirnya aku boleh ke sanggar. Aku masuk dan benar, di sana ada Rena. Ia terkejut melihatku memasuki ruangan dengan jalan kaki walaupun memakai tongkat. Ia melambaikan tangan sangat gembira melihatku. Pelatihku juga melihatku dengan pandangannya yang tetap dingin, seperti biasanya. Ia berteriak dari jauh, “Nona, masih berani kah kau datang ke sini setelah kecerobohan yang kau lakukan?”
            Aku terdiam. Ya memang salahku, tapi omongannya memang keterlaluan menusuk, dan selalu begitu. Aku mendekat perlahan dan ia tak menggubrisku.
            “Sudahlah. Mari kita mulai latihannya, Rena.”
            Pandangan Rena masih lekat ke arahku. Ia merasa kasihan melihat aku berjalan kesusahan. Ia hendak menolongku dan sang pelatih sepertinya tahu gerak-geriknya.
            “Biarkan saja dia! Kita siapkan tarian tunggalmu saja. Lagi pula penampilanmu dengannya sudah di cancel.”
            Aku terdiam dan badanku serasa lemas mendengar perkataan tajam itu.  Aku tak tahu mengapa aku merasa sedih dan sangat menyesal, padahal aku tahu kalau penampilanku memang akan benar di cancel.
            “Maafkan aku, Emma.”, ia berbisik ke arahku dengan pandangannya yang lembut.
            Aku harus kuat! Bagaimana pun, aku harus bahagia melihat sahabatku yang akan tampil tunggal, dan aku harus menyemangatinya, bukan menjadi beban baginya. Gerakannya memang benar-benar memukau. Rasa sakitku di kakiku seakan hilang, terbayar melihat penampilan sahabatku layaknya seorang bintang.
            Waktu yang ditunggu pun tiba. Karpet merah ditebar di tengah ruangan. Bunga-bunga ucapan digelar di sepanjang pintu masuk. Lampu bewarna-warni menerangi seisi ruangan. Pentas yang menjadi impianku selama ini, tarian yang belum pernah kubawakan sebelumnya seakan mimpi saja, aku tidak bisa menjalaninya. Rasa putus asa meliputiku lagi. Seharusnya aku tidak boleh begini, aku harus senang melihat sahabatku hari ini tampil.
            Akhirnya ia tampil. Sorakan dan tepuk tangan dari ratusan orang menyertai seluruh rangkaian tariannya yang sangat indah. Ternyata, penampilan tunggalnya itu adalah tarian yang seharusnya kubawakan bersamanya, namun dirangkai menjadi tarian tunggal. Penampilannya sungguh memukau, dan aku membayangkan bila aku berada di sampingnya, menari dengannya juga.
            Selesai penampilannya, pembawa acara menanyainya beberapa pertanyaan. Ia menjawabnya dengan wajah berseri bangga telah berhasil membawakan tarian level tinggi itu. Dan sampailah pada pertanyaan terakhir,
            “Tarian ini akan kau persembahkan untuk siapa? Apakah orang itu ada di sini?”
            “Iya orang itu ada di sana.”, ia menunjuk ke arahku. Kupikir ia tidak akan tahu aku hadir di situ di tengah ratusan kepala yang menutupiku. Dan aku tak menyangka tarian itu ia persembahkan untuk aku.
            “Emma sahabatku.”, ia melanjutkan. “Ia yang harusnya tampil denganku di atas sini. Karena kecelakaan ia tidak bisa. Namun ia lah alasanku untuk tetap berlatih dan membawakan tarian ini.”
            Air mataku jatuh terharu mendengar suaranya yang begitu tulus. Ia tak mau tarian kami di cancel penampilannya. Ia hanya akan membawakan tarian itu walaupun sendirian, dan itu agar aku dapat melihatnya. Agar aku tahu bahwa latihan yang kami lakukan selama ini tidak sia-sia karena tarian itu tetap tampil.
            “Maju ke depan Emma!”
            Ia menyuruhku maju ke atas panggung. Aku maju perlahan dituntun pantitia dan naik ke atas panggung. Ia memelukku di depan orang banyak dan berbisik di telingaku, “Terima kasih. Kamu sudah jadi inspirasi untuk aku.”
            Sebulan kemudian kakiku sudah kembali normal. Aku senang karena akhirnya aku dapat kembali ke sanggar untuk berlatih lagi. Melihatku datang kembali, pelatih melirikku sengit dan bicara padaku tanpa melihatku, “Awas sampai kau lakukan lagi kecerobohanmu!”
            Mendenger itu, Rena terkikih-kikih. Ia memukul pundakku keras. Aku heran melihatnya begitu senang. Senang melihatku sudah sembuh lagi. Aku memang sembuh degan cepat. Termotivasi oleh dorongan yang diberikan Rena padaku.
            Setelah berbulan-bulan berlatih di sanggar, kami mendapat pekerjaan baru lagi, kompetisi balet, dan ketua mengutus aku dan Rena. Kami berlatih keras dan aku tak mau akan jadi seerti kemarin. Kali ini aku harus menemani Rena dalam kompetisi ini. Apa lagi ini kompetisi, aku harus membantu Rena agar kami menang.
            Tapi, aku merasakan ada hal yang aneh yang kualami dalam keseharianku. Aku merasa mudah lemas, dan terkadang pusing. Aku mengabaikannya karena kupikir hanya masalah sepele. Namun, mengetahui hal ini, Rena memaksaku untuk periksa ke dokter. Ia sangat mengkhawatirkanku.
            Dan hal yang paling mengagetkan adalah ketika dokter mengatakan bahwa sakit yang kualami sudah sangat parah. Leukemia. Penyakit yang kecil kemungkinannya untuk sembuh dan tidak ada obatnya.
            Rena menangis dan ia bertanya-tanya, “Dari mana penyakit itu datang?”, “Kenapa bisa tiba-tiba?”.  Aku hanya terdiam, karena hal ini yang paling aku takutkan. Ibuku penderita leukemia dan akhirnya meninggal. Sejak saat itu ayah meninggalkanku sendirian dan pergi menikah dengan wanita lain. Aku takut kalau aku yang keturunan ibu juga akan terkena penyakit mengerikan ini. Dan ketakutanku benar terjadi.
            “Jangan menangis karena aku, Ren!” Aku paling tidak suka melihat Rena menangis karena aku.
            “Bagaimana penyakit yang kemungkinan sembuhnya kecil  bisa menimpa kamu. Gak ada obat yang bisa nyembuhin leukemia, Emma. Gimana aku gak nangis?! Kesempatanku ketemu sama kamu sekarang makin sedikit.”
            Aku terpukul mendengar perkataannya. Rena, ia yang selalu membuatku tegar kini menjadi lebih lemah dariku. Bagaimana aku bisa lebih tegar darinya? Bagaimana aku bisa percaya bahwa kemungkinan kecil aku untuk sembuh bisa terwujud, bila orang yang kupercaya saja tidak percaya hal itu? Air mata seakan habis dan tak sanggup kuteteskan lagi. Aku memang tak punya harapan hidup.
            Hari-hari kulewati dengan muram. Sudah 3 minggu ini aku tidak pernah datang ke sanggar untuk latihan, tak tahu bagaimana pelatih akan uring-uringan tahu kalau aku tak pernah berlatih mempersiapkan untuk kompetisi. Sudah 3 minggu pula tak pernah kudengar suara sahabat yang aku percaya, Rena, menyemangatiku lagi.
            Sampai suatu hari, saat badanku lemah tak mampu berbuat apa pun, bahkan untuk bangkit dari tempat tidurku, seseorang mengetuk pintuku. Mataku terbelalak dan menyuruh orang itu masuk. Ia masuk ke rumah dan melihatku terbaring dengan tersenyum. Akhirnya aku melihat senyumannya kembali. Dan itu memampukan aku untuk membalas senyumannya.
            “Maafkan aku gak pernah jenguk kamu. Gimana keadaanmu? Sudah lama gak ketemu.”
            “Oh iya, ini aku bawa buah untuk kamu. Kamu harus banyak makan ya biar bisa kembali latihan di sanggar.”
            “Itu pelatih kita sudah uring-uringan, apalagi kita harus ikut kompetisi itu, 2 minggu lagi.”
            “Kamu harus kuat ya! Kita harus bisa menangin lomba itu!”
            Melihatnya terus mengajakku berbicara, aku menjadi sangat senang. Akhirnya matahari menerangiku lagi, walaupun aku hanya bisa melihatnya beberapa waktu terakhir.
            “Emma..”, ia memandangku hangat dan memegang tanganku.
            “Walaupun dokter bilang 99,999% orang sakit leukemia itu berakhir dengan kematian, tapi kamu harus yakin, kalau 0,001% kemungkinan kamu sembuh itu masih ada.”
            “Dan jangan pernah remehkan kemungkinan yang 0,001% itu. Walaupun kecil, tapi itu harapan.”
            Kalimat itu membuat air mataku jatuh terharu. Di saat keadaanku yang tak memungkinkan ini, masih ada irang yang begitu memperhatikanku. Kalimatnya pun membuatku tegar, dan membuat aku sadar, aku masih punya harapan walaupun hanya 0,001%.
            Berangsur-angsur semangatku pulih, dan badanku kembali lebih baik, paling itdak sudah tidak gampang lelah. Aku kembali ke sanggar dan berlatih terus hingga sampai pada hari saat kami tampil. Juri memandang kami kagum dan bertepuk tangan setelah penampilan kami usai. Aku sangat bahagia, melihat Rena menggenggam tanganku, membuatku semakin tegar.
            Dan hari pengumuman pun tiba. Aku menyuruh Rena yang berangkat melihat pengumuman lomba itu, aku memilih istriahat di rumah. Lagi pula sanak saudaraku datang, jadi ada yang menemaniku di rumah.
            Rena bersorak gembira menerima piala besar. Di sana tertulis, juara 1.
            “Terima kasih. Ini semua tak dapat kami raih tanpa ada sahabatku yang berjuang dengan sangat gigih melawan penyakitnya yang hanya ada 0,001% kemungkinan sembuhnya. Ia berlatih keras untuk ini dan ia pasti akan sangat senang mengetahui kami jadi juara.”
            “Emma, aku menyayangimu. Kamu harus berusaha untuk sembuh! Sedikit harapan membawa kamu untuk tetap tegar menghadapi penyakitmu.”
            Kata-katanya mendapat tepuk tangan seluruh ruangan saat pengumuman pemenang itu. Ia pulang dengan gembira dan segera ingin sekali menunjukkan piala itu padaku. Ia ingin membuatku lebih tegar dengan kemungkinan 0,001% itu.
            Tapi, ketika sampai di rumahku, ia telah melihat berbondong-bondong orang keluar masuk dengan meneteskan air mata, mereka tetanggaku. Aku di sini, berdiri di samping jasadku melihat ia datang membawa piala itu. Aku mengucap terima kasih padanya, tapi ia tak dapat mendengarku, karena dunia kami telah berbeda.
            “Emma, kenapa kamu meninggalkan aku tanpa pamit?” ia menangis keras di depan jasadku.
            Walaupun pada akhirnya aku telah pergi, tetapi aku masih sempat percaya, bahwa sekecil apapun harapan itu, itu masih dapat terjadi. Aku masih sempat berjuang melawan sesuatu yang 99,999% membuatku lemah. Dan betapa beruntungnya aku memiliki seorang sahabat yang selalu menegarkanku di saat keadaanku tak memungkinkan.
            Semoga ia dapat selalu tahu, bahwa aku selalu menyertainya di dalam hari-harinya, bahwa aku selalu ingin ia menjadi yang terbaik. Aku ingin, dari tempat penuh ketenangan ini, melihat ia benar-benar tampil sebagai seorang ballerina hebat. Aku ingin ia tetap berjuang seperti aku berjuang melawan penyakitku.
            Walaupun sekecil apapun harapanmu, bahkan bila hanya ada 0,001% kemungkinan, jangan pernah sia-siakan itu. Karena harapan tetaplah harapan yang selalu membuatmu menjadi berhasil 100%.
SUMBER: http://demesdharmesty.wordpress.com/2012/04/01/cerpen-harapan-kecil-yang-membuat-berhasil/

Manusia dan Harapan

1.  Pengertian Harapan
Harapan adalah keyakinan emosional pada kemungkinan hasil positif yang berhubungan dengan kejadian dan keadaan hidup. Harapan membutuhkan tingkat ketekunan yaitu percaya bahwa sesuatu itu mungkin terjadi bahkan ketika ada indikasi sebaliknya. Rasa keyakinan dalam pengertian ini sangat dekat dengan makna yang diberikan kepada iman.

Contoh termasuk harapan yaitu berharap untuk mendapatkan kaya, berharap seseorang yang sembuh dari penyakit, atau berharap bahwa seseorang memiliki perasaan timbal balik cinta.

Harapan merupakan keadaan emosional yang timbul karena adanya rasa kepercayaan pada hasil yang positif berkaitan dengan kejadian dan keadaan dalam kehidupan seseorang. Keputusasaan adalah kebalikan dari harapan. Harapan merupakan "perasaan apa yang diinginkan dapat memiliki atau dimiliki atau berharap sebuah peristiwa akan berubah untuk yang terbaik" atau tindakan " melihat ke depan untuk sesuatu dengan keyakinan keinginan yang masuk akal" atau "merasa sesuatu yang diinginkan dapat terjadi ". Definisi lain adalah "untuk menghargai keinginan dengan antisipasi", "menginginkan dengan harapan didapatkannya", atau "untuk mengharapkan dengan percaya diri".
 
2. Pengertian cita – cita
Cita-cita adalah keinginan, harapan, atau tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Tidak ada orang hidup tanpa cita-cita, tanpa berbuat kebajikan, dan tanpa sikap hidup. Cita-cita adalah suatu impian dan harapan seseorang akan masa depannya, bagi sebagian orang cita-cita itu adalah tujuan hidup dan bagi sebagian yang lain cita-cita itu hanyalah mimpi belaka. Bagi orang yang menganggapnya sebagai tujuan hidupnya maka cita-cita adalah sebuah impian yang dapat membakar semangat untuk terus melangkah maju dengan langkah yang jelas dan mantap dalam kehidupan ini sehingga ia menjadi sebuah akselerator pengembangan diri namun bagi yang menganggap cita-cita sebagai mimpi maka ia adalah sebuah impian belaka tanpa api yang dapat membakar motivasi untuk melangkah maju. Manusia tanpa cita-cita ibarat air yang mengalir dari pegunungan menuju dataran rendah, mengikuti kemana saja alur sungai membawanya. Manusia tanpa cita-cita bagaikan seseorang yang sedang tersesat yang berjalan tanpa tujuan yang jelas sehingga ia bahkan dapat lebih jauh tersesat lagi. Ya, cita-cita adalah sebuah rancangan bangunan kehidupan seseorang, bangunan yang tersusun dari batu bata keterampilan, semen ilmu dan pasir potensi diri.
Cita-cita bukan hanya terkait dengan sebuah profesi namun lebih dari itu ia adalah sebuah tujuan hidup. Seperti ada seseorang yang bercita-cita ingin memiliki harta yang banyak, menjadi orang terkenal, mengelilingi dunia, mempunyai prestasi yang bagus dan segudang cita-cita lainnya. Namun seorang muslim tentunya akan menempatkan cita-citanya di tempat yang paling tinggi dan mulia yaitu menggapai keridhaan Allah.
Cita-cita bisa di capai jika ada kemauan keras dari hidup kita, sedari kecil kita sudah di tanya oleh orang tua kita , ingin jadi apa ketika besar nanti, apa cita-cita kamu di masa depan, itulah kata-kata yang keluar dari mulut orang tua ataupun siapa saja yg menanyakannya.
biasanya dari kecil kita sudah di tuntun atau di beri motivasi untuk cita-cita kita kedepannya, dan karena dari dukungan orang tua kita bisa berpikir luas dan logis untuk menjalani hidup kedepannya. Tuntunan hidup dari orangtua itu adalah acuan kita supaya bisa niat mengejar cita-cita atau tujuan hidup kita di masa depan.
Orangtua mana yang tidak bangga melihat anaknya bahagia karena sukses menggapai cita-cita yang diinginkannya. Karena cita-cita jika tercpai bukan hanya orang tua saja yang bahagia, tetapi juga kehidupan keluarga kita sendiri jika sudah hidup berumah tangga.
Jadi gapailah cita-citamu setinggi langit, di sertai dengan usaha,kemauan keras dan doa yang memohon untuk dikabulkan cita-cita kita.
           3. Tantangan dalam mewujudkan harapan dan cita cita
Banyak sekali rencana dan keinginan yang hendak kita capai. Namun sayangnya tidak semua bisa mewujudkan sesuai dengan apa yang diinginkannya. Bukan karena tidak mudah untuk diraihnya atau diluar kemampuan kita. Tapi kebanyakan dari keinginan itu berhenti ditengah jalan atau kasarnya gagal untuk dicapai. Ini dikarenakan semata-mata dari kita sendiri yang sulit untuk menjaga komitmen dalam  menjalankan niat terhadap yang apa yang kita inginkan.
Padahal semua keinginan dan resolusi itu menuntut kita untuk bersabar dalam menjalaninya. Karena pada dasarnya semua yang kita inginkan butuh proses untuk mewujudkannya. Tentunya resolusi yang menurut kita baik untuk dicapai, sehingga tidak sia-sia usaha kita dalam menjalaninya.
Kalau belum apa-apa kita sudah bosan, males atau  membuat alasan ini dan itu sebagai justifikasi atau pembenaran untuk tidak berbuat. Maka tunggulah apa yang kita inginkan. Pelan tapi pasti akan menjauh pula dari kita. Karena kita sendiri yang menjadikan rencana atau resolusi itu tumbang ditengah jalan. Jadi janganlah menyalahkan orang lain, kalau kita gagal untuk mewujudkan cita-cita atau berbagai resolusi yang kita buat. Tapi semua itu karena ulah kita yang menganggap remeh dengan suatu proses.
Sebaliknya, selama kita tetap menjalankan langkah-langkah terhadap apa yang kita inginkan atau menjalani suatu proses, niscaya pelan tapi pasti keinginan atau resolusi kita akan bisa terwujud. Karena pada dasarnya tidak ada cita-cita yang tidak mungkin dicapai. Yup, nothing is impossible dan semuanya adalah bisa dan mungkin, selama kita mau berusaha. Jadi prinsip saya, tak akan lari gunung dikejar. Tinggal kita mau tidak berusaha untuk mendekati gunung itu.  Paling tidak sudah lebih dekat dengan  suatu keberhasilan, kalau belum bisa tercapai secara sempurna.
Maka komitmen dan persisten adalah kunci untuk mewujudkan apa yang menjadi resolusi kita. Tanpa itu dilaksanakan atau kita sendiri bosan dalam mewujudkannya, maka tunggu saja pada akhir tahun kita akan membuat resolusi yang sama lagi. Begitu seterusnya. Jadi resolusi akan tinggal resolusi apapun bentuk resolusi kita. Lagi-lagi kita sendiri sumber dari pelaku kegagalan itu.

MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB

Manusia dan Tanggung Jawab
Dalam konteks sosial manusia merupakan makhluk sosial. Ia tidak dapat hidup sendirian dengan perangkat nilai-nilai selera sendiri. Nilai-nilai yang diperankan seseorang dalam jalinan sosial harus dipertanggungjawabkan sehingga tidak mengganggu konsensus nilai yang telah disetujui bersama.
Tanggung jawab erat kaitannya dengan kewajiban. Kewajiban adalah sesuatu yang dibebankan terhadap seseorang, kewajiban merupakan tandingan terhadap hak, dan dapat juga tidak mengacu kepada hak, maka tanggung jawab dalam hal ini adalah tanggung jawab terhadap kewajibannya.
Kewajiban dibagi menjadi dua, yaitu:
a) Kewajiban terbatas
b) Kewajiban tidak terbatas

Pengertian  Tanggung Jawab

Tanggung jawab adalah sifat terpuji yang mendasar dalam diri manusia. Selaras dengan fitrah. Tapi bisa juga tergeser oleh faktor eksternal. Setiap individu memiliki sifat ini. Ia akan semakin membaik bila kepribadian orang tersebut semakin meningkat. Ia akan selalu ada dalam diri manusia karena pada dasarnya setiap insan tidak bisa melepaskan diri dari kehidupan sekitar yang menunutut kepedulian dan tanggung jawab. Inilah yang menyebabkan frekwensi tanggung jawab masing-masing individu berbeda.
Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang di sengaja maupun yang tidak di sengaja.tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban.
Tanggung jawab menurut kamus umum Bahasa Indonesia adalah, keadaan wajib menanggung segala sesuatunya.Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak di sengaja. Tangung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.
Manusia yang bertanggung jawab adalah manusia yang berani menghadapi masalahnya sendiri.

Macam-Macam Tanggung Jawab 

Ada beberapa jenis tanggung jawab, yaitu :
1.       Tanggung Jawab Terhadap Diri Sendiri
Tanggung jawab terhadap diri sendiri, menuntut kesadaran setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi. Dengan demikian bisa memecahkan masalah-masalah mengenai dirinya sendiri. Menurut sifat dasarnya, manusia adalah makhluk bermoral, tetapi manusia juga seorang pribadi, karena itu manusia mempunyai pendapat sendiri, perasaan sendiri, dan angan-angan sendiri.
2.       Tanggung Jawab Terhadap Keluarga
Keluarga merupakan masyarakat kecil. Tiap anggota keluarga wajib bertanggungjawab pada keluarganya. Tanggung jawab ini tidak hanya menyangkut nama baik keluarga, tetapi tanggung jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan, pendidikan, dan kehidupan.
3.       Tanggung Jawab Terhadap Masyarakat
Pada hakekatnya, manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan manusia lain, sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk sosial. Karena membutuhkan manusia lain, maka ia harus berkomunikasi dengan manusia lain tersebut. Sehingga dengan demikian, manusia disini merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab, agar dapat melangsungkan hidupnya di dalam masyarakat tersebut.
4.       Tanggung Jawab Kepada Bangsa / Negara
Setiap manusia atau individu adalah warga negara suatu negara. Dalam berpikir dan bertindak, manusia terikat oleh norma-norma dan aturan. Manusia tidak dapat berbuat semaunya sendiri. Jika perbuatannya salah, dan melanggar aturan dan norma tersebut, maka manusia itu harus bertanggung jawab kepada bangsa atau negaranya.
5.       Tanggung Jawab terhadap Tuhan
Penciptaan manusia dilandasi oleh sebuah tujuan luhur. Maka, tentu saja keberadaannya disertai dengan berbagai tanggungjawab. Konsekuensi kepasrahan manusia kepada Allah Swt, dibuktikan dengan menerima seluruh tanggungjawab (akuntabilitas) yang datang dari-Nya serta melangkah sesuai dengan aturan-Nya. Berbagai tanggungjawab ini, membentuk suatu relasi tanggungjawab yang terjadi antara Tuhan, manusia dan alam. Hal tersebut meliputi antara lain: tanggungjawab manusia terhadap Tuhan, tanggungjawab manusia terhadap
sesama, tanggungjawab manusia terhadap alam semesta serta tanggungjawab manusia tehadap dirinya sendiri. Tanggungjawab manusia terhadap Tuhan meliputi dua aspek pokok. Pertama, mengenal Tuhan. Kedua, menyembah dan beribadah kepada-Nya.

Pengabdian dan Pengorbanan

Wujud tanggungjawab juga berupa pengabdian dan pengorbanan. Pengabdian dan pegorbanan adalah perbuatan baik untuk kepentingan manusia itu sendiri. Pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta kasih sayang, norma, atau satu ikatan dari semua itu dilakukan dengan ikhlas. Pengabdian itu pada hakekatnya adalah rasa tanggungjaab. Apabila orang bekerja keras sehari penuh untuk mencapai kebutuhan, hal itu berarti mengabdi keapada keluarga.  Manusia tidak ada dengan sendirinya, tetapi merupakan mahluk ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan manusia wajib mengabdi kepada Tuhan. Pengabdian berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada uhan, dan merupakan perwujudan tanggungjawab kepad Tuhan.
Pengorbanan berasal dari kata korban atau kurban yang berarti persembahan, sehingga pengorbanan berarati pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan demikian pengorbanan yang bersifat kebaktian itu mengandung keikhalasan yangtidak menganadung pamrih. Suatu pemberian yang didasarkan atas kesadaran moral yang tulus ikhlas semata-mata. Perbedaan antara pengabdian dan pengorbanan tidak begitu jelas. Karena adanya pengabdian tentu ada pengorbanan. Antara sesame kawan sulit dikatakan pengabdian karena kata pengabdian mengandung arti lebih rendah tingkatannya, tetapi untuk kata pengorbanan dapat juga diterapkan kepaa sesame teman..
Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda, pikiran dan perasaan, bahkan dapat juga berupa jiwanya. Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan sja diperlukan. Pengabdian lebih banyak menunjuk pada perbuatan sedangkan pengorbanan lebih banyak menunjuk pada pemberian sesuatu misalnya berupa pikiran, perasaan, tenaga, biaya. Dalam pengabdian selalu dituntut pengorbanan, tetapi pengorbanan belum tentu menuntut pengabdian.

Sumber:

Seri Diktat Kuliah MKDU: Ilmu Budaya Dasar karya Widyo Nugroho dan Achmad Muchji, Universitas Gunadarma
http://amrozi-gitz.blogspot.com/2012/06/manusia-dan-tanggung-jawab.html

Minggu, 08 Juni 2014

Hasil Budaya Yang Berkaitan dengan Hubungan Manusia dan Penderitaan Juga Kegelisahan

Contoh puisi manusia dan kegelisahan :

 

Jiwa menangis diiris sedih
Bermuram durja penuh penderitaan
Jiwa terseduh menangis merintih
Badan terkulai penuh penderitaan

Bagai terdengar angin menderu-deru
Awan tebal bergulung-gulung
Halilintar gemuruh bagai peluru
Semesta alam bagai berkabung

Tak ada kawan menghapus gundah
Tak terdengar langkah orang bertandang
Sendirilah jiwa rasa tenggelam di air bah
Tidak terdengarlah orang menjelang?

 

Lirik lagu tentang kegelisahan dan penderitaan :

 

Dewa – Pupus

Aku tak mengerti
apa yang kurasa
rindu yang tak pernah
begitu hebatnya

* aku mencintaimu
lebih dari yang kau tahu
meski kau takkan pernah tahu

aku persembahkan
hidupku untukmu
telah ku relakan
hatiku padamu

namun kau masih bisu
diam seribu bahasa
dan hati kecilku bicara

reff : baru kusadari
cintaku bertepuk sebelah tangan
kau buat remuk sluruh hatiku

semoga aku akan memahami
sisi hatimu yang beku
semoga akan datang keajaiban
hingga akhirnya kaupun mau

repeat *
repeat reff

lirik tentang kegelisahan :

Titi DJ – Bahasa Kalbu

Kau satu terkasih
Kulihat di sinar matamu
Tersimpan kekayaan batinmu

Di dalam senyummu
Kudengar bahasa kalbumu
Mengalun bening menggetarkan

Kini dirimu yang selalu
Bertahta di benakku
Dan aku kan mengiringi
Bersamam di setiap langkahmu

Percayalah
Hanya diriku yang paling mengerti
Kegelisahan jiwamu kasih
Dan arti kata kecewamu

Kasih yakinlah
Hanya aku yang paling memahami
Besar arti kejujuran diri
Indah sanubarimu kasih
Percayalah

 

 

Puisi tentang kegelisahan dan penderitaan :

Hanya terdengar angin menderu-deru
Di angkasa dingin nan lebar
Adakah orang mengulurkan tangan itu?
Ya, Allah membisikkan supaya sabar

Jiwamu sendiri kawanmu senandung
Allah sendiri tempat berlindung
           Supaya percaya
           Senantiasa

Bahwa segala penderitaan diri
Tak seberapa dengan penderitaan dunia ini
Bahwa segala penderitaan lambat laun
Akan hilang disapu waktu

 

Lirik lagu tentang penderitaan dan kegelisahan :

Melly Goeslaw – Gantung

ku harus menemui cintaku
mencari tahu hubungan kita
apa masih atau tlah berakhir

kau menggantungkan hubungan ini
kau diamkan aku tanpa sebab
maunya apa? ku harus bagaimana?
kasih…

(Chorus)

sampai kapan kau gantung cerita cintaku
memberi harapan
hingga mungkin ku tak sanggup lagi
dan meninggalkan dirimu

detik-detik waktu pun terbuang
teganya kau menggantung cintaku
bicaralah biar semua pasti

kau menggantungkan hubungan ini
kau diamkan aku tanpa sebab
maunya apa? ku harus bagaimana?
kasih…

(Chorus)

gantungnya hubungan cintaku
membuatku sakit
hingga mungkin ku tak sanggup lagi
dan meninggalkan dirimu

 

Sumber :



http://liriklagupopular.blogspot.com/2007/12/melly-goeslow-gantung.html

Manusia dan Kegelisahan

engertian Kegelisahan
Kegelisahan berasal dari kata “gelisah”. Gelisah artinya rasa yang tidak tentram di hati atau merasa selalu khawatir, tidak dapat tenang (tidurnya), tidak sabar lagi (menanti), cemas dan sebagainya. Kegelisahan menggambarkan seseorang tidak tentram hati maupun perbuatannya, artinya merasa gelisah, khawatir, cemas atau takut dan jijik. Rasa gelisah ini sesuai dengan suatu pendapat yang menyatakan bahwa manusia yang gelisah itu dihantui rasa khawatir atau takut.Manusia suatu saat dalam hidupnya akan mengalami kegelisahan. Kegelisahan yang cukup lama akan menghilangkan kemampuan untuk merasa bahagia.
Manusia selama ini seringkali tenggelam dalam kegelisahan. Berbagai penyebab kegelisahan telah menyita waktu dan perhatian manusia, dan sayangnya banyak yang tidak menyadari betapa mengganggunya kegelisahan itu. Kegelisahan yang timbul dalam diri kita sebenarnya dibuat oleh kita sendiri, kita ciptakan mereka di dalam pikiran kita melalui ketidakmampuan ataupun kegagalan untuk mengerti bahaya perasaan keakuan dan melalui khayalan yang melambung serta kesalahan dalam menilai setiap kejadian atau benda. Hanya jika kita dapat melihat suatu kejadian atau benda dengan apa adanya, bahwa tidak ada sesuatu apa pun yang kekal di dunia ini dan bahwa keakuan kita sendiri merupakan khayalan liar yang membawa kekacauan dalam pikiran yang tidak terlatih. Kegelisahan adalah suatu rasa tidak tenteram, tidak tenang, tidak sabar, rasa khawatir/cemas pada manusia. Kegelisahan merupakan gejala universal yang ada pada manusia manapun. Namun kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingakah laku atau gerak – gerik seseorang dalam situasi tertentu. Jadi, kegelisahan merupakan sesuatu yang unik sebagai manifestasi dari perasaan tidak tenteram, khawatir, ataupun        cemas.
Kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkahlaku atau gerak gerik seseorang dalam situasi tertentu. Gejala gerak gerik atau tingkah laku itu umumnya lain dari biasanya, misalnya berjalan mondar-mandir dalam ruang tertentu sambil menundukkan kepala, duduk merenung sambil memegang kepala, duduk dengan wajah murung,malas bicara, dan lain-lain.kegelisahan juga merupakan ekspresi dari kecemasan. Masalah kecemasan atau kagalisahan berkaitan juga dengan masalah frustasi, yang secara definisi dapat disebutkan, bahwa seseorang mengalami frustasi karena apa yang diinginkan tidak tercapai.
Hal ini terjadi karena adanya keterbatasan manusia untuk dapat mengetahui hal-hal yang akan datang atau yang belum terjadi. Hal ini terjadi misalnya karena adanya suatu harapan, atau adanya ancaman. Manusia gelisah karena takut terhadap dosa-dosa dan pelanggaran (yang telah dilakukan), takut terhadap hasil kerja (tidak memenuhi kepuasan spiritual), takut akan kehilangan milik (harta dan jabatan), atau takut menghadapi keadaan masa depan (yang tidak disukai). Sedangkan sumber kegelisahan berasal dari dalam diri manusia (internal) misalnya rasa lapar, haus, rasa sepi, dan dari luar diri manusia (eksternal) misalnya kegelisahan karena diancam seseorang.
Pengertian Keterasingan
Keterasingan berasal dari kata terasing, dan kata itu adalah dari kata dasar asing. Kata asing berarti sendiri, tidak dikenal,sehingga kata terasing berarti, tersisihkan dari pergaulan, terpisahkan dari yang lain, atau terpencil. Jadi kata terasingberarti hal-hal yang berkenaan dengan tersisihkan dari pegaulan, terpencil atau terpisah dari yang lain. Keterasingan adalahbagian hidup manusia. Sebentar atau lama, orang pernah mengalami hidup dalam keterasingan sudah tentu dengan sebabdan kadar yang berbeda satu sama lain. Yang menyebabkan orang berada dalam keterasingan ialah perilakunya yang tidakdapat diterima atau tidak dapat dibenarkan oleh masyarakat, atau kekurangan yang aa pada diri seseorang, sehingga iatida dapat atau sulit menyesuaikan diri dalam masyarakat.
  
Pengertian Kesepian
Kesepian adalah keadaan emosi dan kognitif yang tidak bahagia yang diakibatkan oleh hasrat akan hubungan akrab tetapi tidak dapat mencapainya. Individu yang tidak menginginkan teman bukan orang yang kesepian, tetapi seseorang yang menginginkan teman dan tidak memilikinyalah orang yang kesepian. Kesepian adalah pengalaman subjektif.
Kesepian juga dideskripsikan sebagai kesakitan sosial - suatu mekanisme psikologis untuk memperingatkan seorang individu atas isolasi yang tidak diinginkan dan memotivasinya untuk mencari hubungan sosial.
Sebagai makhluk sosial, rasanya tidak ada orang yang ingin kesepian, tanpa punya sahabat tempat berbagi perasaan atau juga tidak punya keterikatan emosional dengan pasangan. Orang-orang yang kesepian cenderung menilai dirinya sebagai orang yang tidak berharga dan tidak dicintai. Akhirnya ia pun tidak nyaman berada di lingkungan mana pun.
Selain mendatangkan penyakit, kesepian yang dirasakan seseorang juga bisa membuatnya kedinginan dan mudah terserang flu. Menurut peneliti dari Universitas Toronto, Kanada, orang-orang yang merasa dirinya terasing sering merasa kedinginan di sebuah ruangan bila dibandingkan dengan orang yang bahagia.

Pengertian Ketidakpastian
Ketidak pastian berasal dari kata tidak pasti artinya tidak menentu, tidak dapat ditentukan, tidak tahu, tanpa arah yang jelas, tanpa asal-usul yang jelas. Ketidak pastian artinya keadaan yang pasti, tidak tentu, tidak dapat ditentukan, tidak tahu,keadaan tanpa arah yang jelas, keadaan tanpa asal-usul yang jelas itu semua adalah akibat pikirannya tidak konsentrasi.
Macam – macam kegelisahan
Ada beberapa macam kegelisahan yang biasa dialami oleh manusia dan ada beberapa tips untuk mengatasi kegelisahan-kegelisahan tersebut.
Menurut Sigmund Freud, ahli psikoanalisa berpendapat bahwa ada tiga macam kecemasan atau kegelisahan yang menimpa manusia yaitu:
Kegelisahan Objektif
adalah suatu pengalaman perasaan sebagai akibat pengamatan atau suatu bahaya dalam dunia luar. Bahaya adalah sikap keadaan dalam lingkungan seseorang yang mengancam untuk mencelakakannya. Pengalaman bahaya dan timbulnya kecemasan mungkin dari sifat pembawaan, dalam arti kata, bahwa seseorang mewarisi kecenderungan untuk menjadi takut kalau ia berada dekat dengan benda-benda tertentu atau dalam keadaan tertentu dari lingkungan.
Kegelisahan Neoritis
timbul karena pengamatan tentang bahaya dari naluriah. Menurut Sigmund Freud kecemasan ini dibagi tiga macam yakni; kecemasan yang timbul karena penyesuaian diri dengan lingkungan, bentuk ketakutan yang irasional (phobia), dan rasa takut lain karena gugup, gagap dan sebaganya.
 Kegelisahan Moril
disebabkan karena pribadi seseorang. Tiap pribadi memiliki bermacam-macam emosi antara lain: rasa iri, dengki, marah, gelisah, cinta, rasa kurang. Semua itu merupakan sebagian dari pernyataan individu secara keseluruhan berdasarkan konsep yang kurang sehat. Sikap seperti itu sering membuat orang merasa khawatir, cemas, takut, gelisah dan putus asa. Bila dikaji sebab-sebab orang gelisah adalah karena hakekatnya orang takut kehilangan hak-haknya. Hal itu adalah akibat dari suatu ancaman, baik ancaman dari dalam maupun dari luar.
Sumber-sumber kegelisahan hidup
Dalam hidup, cemas atau gelisah, adalah hal yang paling sering kita alami, tapi terkadang kita merasa bingung mengapa kita mengalami hal itu. Sekarang ,mari kita cermati apa saja yang membuat kita bisa cemas atau mengalami kegelisahan.
Pertama, banyak hutang. Orang yang banyak hutang ternyata banyak sekali berbohong. Terutama saat ditagih, terkadang ada saja yamg tidak jujur-menyatakan tidak punya uang, padahal ada. Karena itu, agar hidup kita bahagia, jangan coba-coba berhutang pada orang lain, baik materi maupun jasa.
Kedua, tidak jujur. Semakin kita tidak jujur, semakin banyak berbohong, maka akan semakin banyak yang akan kita sembunyikan. Kalau nurani pembohong semacam ini masih hidup, jelas rasa bersalah dan berdosanya akan terus mengikuti. Maka dari itu, jadilah orang yang jujur, yang tampil apa adanya, insya allah, hidup pun akan terasa ringan.
Ketiga, banyak keinginan. Semakin kita banyak keinginan (duniawi), maka semakin tertekan rasanya hidup ini. Berbahagialah mereka yang sedikit keinginan dunianya dan banyak keinginan akhiratnya. Tandanya, mereka selalu mensyukuri nikmat yang diterima dari-Nya.
Keempat, ambisius. Kegigihan dan ambisi kita terkadangmembuat kita terperosok kejurang kecemasan dan kegelisahan hidup. Seakan-akan ada sesuatu yang ingin kita raih, namin apa yang ingin kita raih itu tak lebih dari "asap", tak tergapai. Mengapa? karena kita tidak menjadikan tujuan utamanya adalahsebagai jalan mendekat kepada-Nya.
kelima, pendengki.mereka yang poendengki adalah mereka yang akan gelisah hidupnya. Betapa tidak, melihat orang lain lebih baik darinya, hatinya makin kesal. Melihat orang lain bertambah kaya, makin resah perasaannyta. Padahal rumus untuk tidak menjadi pendengki semacam ini ialah, terserah Allah, karena Dia tau apa yang terbaik bagi kita.
keenam, orang yang sombong dan emosional. Orang yabg sombong, kelakuannya selalu tempramental atau emosional, dia akan selalu menjalani hidup dengan penuh kemarahan, sensitif dan mudah tersinggung. Sebaliknya, orang yang tidak tempramental, bila berhadapan dengan suatu masalah, pertama-tama akan ia serahkan kembali kepada Allah.
Usaha – Usaha mengatasi Kegelisahan
Usaha-usaha yang dapat kita lakukan untuk mengatasi kegelisahan ini peratama-tama harus mulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu, yaitu kita harus bersikap tenang. Dengan sikap tenang kita dapat berpikir tenang, sehingga kesulitan dapat kita atasi. Sedangkan cara yang paling ampuh untuk mengatasi kegelisahan adalah dengan berserah diri kepada Tuhan.
Cara lain yang mungkin juga baik untuk digunakan dalam mengatasi kegelisahan: 
-Dengan memerlukan sedikit pemikiran yaitu, pertama kita menanyakan pada diri kita sendiri (instropeksi),akibat yang paling buruk yang bagaimanakah yang akan kita tanggung atau yang akan terjadi,mengapa hal itu terjadi,apa penyebabnya dan sebagainya. 
Kita bersedia menerima sesuatu yang terjadi pada diri kita dengan rasa tabah dan senang hati niscaya kecemasan tersebut akan sirna dari jiwa kita. Bersamaan berjalannya waktu kita dapat mencoba untuk memperkecil dan mengurangi keburukan-keburukan akibat timbulnya kecemasan tersebut dalam jiwa  kita.
- Berdoa kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh sabar,tabah,senang dan ikhlas sehingga Ia mau mengabulkan permohonan kita dari perasaan kecemasan ini,sebab Tuhan adalah yang paling Maha Pemurah,Maha Pengampun,Maha Pengasih dan Maha Penyayang bagi umatnya yang mau berdoa dan memohon kepadaNya.
Hanya dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan dan memasrahkan diri kepada Tuhan, maka hati gelisah manusia akan hilang. Mendekatkan diri bukan hanya dengan cara melalui hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga melalui hubungan horizontal dengan sesama manusia sebagaimana yang diperitahkan oleh Tuhan.
Sumber :

Manusia dan Penderitaan

PENGERTIAN PENDERITAAN
                Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sansekerta dara artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan dapat berupa penderitaan lahir atau batin atau lahir dan batin. Penderitaan termasuk realitas manusia dan dunia. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, ada yang berat, ada yang ringan.
            Namun peranan individu juga menentukan berat-tidaknya intensitas penderitaan. Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit kembali bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.Berbagai kasus penderitaan terdapat dalam kehidupan. Banyaknya macam kasus penderitaan sesuai dengan liku liku kehidupan manusia. Penderitaan fisik yang dialami manusia tentulah diatasi dengan cara medis untuk mengurangi atau menyembuhkannya, sedangkan penderitaan psikis, penyembuhan nya terletak pada kemampuan si penderita dalam menyelesaikan soal-soal psikis yang dihadapinya.
            Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan badan atau jasmani, dan dapat juga berupa siksaan jiwa atau rohani. Akibat siksaan yang dialami seseorang, timbullah penderitaan. Siksaan yang sifatnya psikis bisa berupa : kebimbangan, kesepian, ketakutan. Ketakutan yang berlebih-lebihan yang tidak pada tempatnya disebut phobia.banyak sebab yang menjadikan seseorang merasa ketakutan antara lain : claustrophobia dan agoraphobia, gamang, ketakutan, kesakitan, kegagalan. Para ahli ilmu jiwa cenderung berpendapat bahwa phobia adalah suatu gejala dari suatu problema psikologis yang dalam, yang harus ditemukan, dihadapi, dan ditaklukan sebelum phobianya akan hilang. Sebaliknya ahli-ahli yang merawat tingkah lakupercaya bahwa suatu phobia adalah problem nya dan tidak perlu menemukan sebab-sebabnya supaya mendapatkan perawatan dan pengobatan. Kebanyakan ahli setuju bahwa tekanan dan ketegangan disebabkan oleh karena si penderita hidup dalam keadaan ketakutan terus menerus, membuat keadaan si penderita sepuluh kali lebih parah.
Pengertian siksaan
Siksaan merupakan suatu penderitaan yang diterima oleh seseorang. Penderitaan itu sendiri berbentuk penganiayaan. Seseorang mengalami penganiyaan yang membuatnya mendapat siksaan dan merasa tersiksa. Kenyamanan tentu saja tidak dapat oleh seseorang yang mengalami siksaan tersebut. Dengan siksaan yang didapat oleh seseorang, pastilah akan membuat orang itu mendapat luka baik luka fisik maupun luka hati atau yang lebih terkenal dengan nama ‘sakit hati’.
Pengertian rasa sakit
Rasa sakit adalah rasa yang dirasakan atau dialami oleh penderita dan setiap manusia akan selalu mengalaminya. Rasa sakit dan siksaan merupakan rentetan sebab akibatnya. Karena ada siksaan orang merasa sakit, dan karena merasa sakit orang menderita. Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari rasa sakit, misalnya timbul rasa kasihan terhadap penderita, adanya rasa keprihatinan manusia, rasa social, dapat mendekatkan diri penderita kepada Tuhan, dll.
Sumber Penderitaan
Bila kita kelompokkan secara sederhana berdasarkan sumber penderitaan, maka penderitaan manusia dapat diperinci sebagai berikut:
·         Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia
Penderitaan ini dapat terjadi dalam hubungan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Penderitaan ini kadang disebut nasib buruk. Nasib buruk dapat diperbaiki dan manusialah yang dapat memperbaiki nasibnya.
·         Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan/azab Tuhan
Dalam mengatasi penderitaan ini manusia dapat berusaha dengan kesabaran, tawakal, dan optimisme.
·         Terhadap orang lain
Perbuatan buruk manusia dapat menimbulkan derita bagi orang lain yang sangat mengganggu phyisik dan phisikologi orang yang menderita.
·         Terhadap alam lingkungan
Perbuatan buruk manusia terhadap alam lingkungan juga menjadi penyebab penderitaan bagi manusia lainnya, tetapi sayang manusia tidak mau menyadari perbuatannya itu.
Usaha-usaha untuk Mengatasi Penderitaan
Manusia memiliki berbagi cara menghadapi penderitaan mulai dari berekspresi dengan seni, meminta bantuan orang lain. Hingga manusia merasa mampu melewati penderitaan tersebut. Selagi nyawa ada manusia tak akan pernah berhenti berjuang mengatasi masalah.

·         Memulai sesuatu hal dengan hal yang baik, dengan cara ini penderitaan bisa kita hindari karena dengan berbuat baik nasib kita bisa berubah sesuai dengan perbuatan yang telah kita lakukan.
·         Lebih mendekatkan diri pada Tuhan, dengan cara ini apa yang kita perbuat akan sesuai dengan jalan dan seturut dengan perintahNya. Penderitaan kita bisa berkurang jika selalu mendekatkan diri pada yang kuasa.
·         Jalani hidup dengan optimis, dengan cara ini penderitaan dalam hidup kita akan segera berlalu karena adanya suatu motivasi dalam diri untuk mengakhiri segala penderitaan yang telah terjadi dalam hidup ini.
·         Selalu berfikir positif, apapun yang terjadi pada hari ini, kemarin maupun lusa ambil saja hikmah yang akan memberi kita kebahagiaan disuatu hari nanti.
Sumber :

http://meiliaupstar.blogspot.com/2012/01/pengertian-rasa-sakit-dan-sumber.html