Harapan Kecil yang Membuat Berhasil
Di saat seorang yang kau percaya berkata hidupmu tak lama lagi,
air matamu akan berjatuhan. Putus asa, dalam hatimu tak ada lagi
harapan. Ketika semua orang menangisimu, menunggu sampai dirimu akan
menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya, dirimu akan merelakan
semuanya, dan berharap malaikat penyabut nyawa segera datang. Di sisi
lain, dirimu akan merasa apa yang kau lakukan di dunia ini masih belum
sempurna, masih banyak tanggungan yang harus diselesaikan.
Melihat air mata orang-orang yang benar tulus
mencintaiku, hatiku makin sakit. Aku belum sempat membahagiakan mereka.
Dan mengingat, gelar yang terukir di namaku pun masih belum sepenuhnya
teraih. Mengetahui kenyataan 99,999% penyakitku mematikan, harapanku
untuk hidup lebih lama lagi kosong.
Dimulai dengan kecelakaan kecil, yang akhirnya aku
berhasil bangkit lagi, tetapi mimpi buruk kembali datang dan harapanku
hilang. Menjalani kenyataan hidup yang begitu menyakitkan dan sulit,
langkahku perlahan menjadi lemah, tak sanggup menopang tubuhku yang
akhirnya rebah.
“Hebat! Benar-benar hebat! Kamu memang penari paling hebat yang pernah kutemui!”
“Ikutlah kompetisi internasional sekali waktu supaya bakatmu makin terasah!”
Pujian kudengar dari balik pintu ruang ganti. Aku
tersenyum bahagia. 1 sajian tarian yang aku dan sahabatku bawakan dipuji
orang banyak. Walaupun bukan aku yang dapat pujian secara langsung, aku
cukup senang karena sahabatku pun dipuji. Ketika ia bahagia, aku pun
bahagia.
“Hei, semua orang suka dengan tarian kita.”, kata sahabatku dengan girang ketika aku selesai berganti pakaian.
“Kau memang hebat! Selamat!”, jawabku sambil tersenyum ke arahnya.
“Mmm.. tidak.”, ia menggelengkan kepalanya. “Kau pun
hebat. Tanpa kamu, tarian kita takkan jadi hebat.”, ia memelukku.
Pelukan seorang sahabat kurasakan sangat nyaman. Aku
tersenyum bahagia. Semenjak ayahku tak dapat kupercaya lagi, Rena adalah
orang yang paling kupercaya. Saat aku kehilangan kasih sayang seorang
ayah, Rena mengasihiku seperti seorang ayah mengasihi anaknya. 100% aku
percaya padanya.
Ia dan aku adalah yang terkuat di sanggar. Pelatih kami
selalu memilih kami dalam pentas-pentas untuk membawakan tarian utama
yang biasanya ada di akhir acara. Dalam pikiranku, tak pernah terbesit
ia adalah pesaingku dan aku harus mengalahkan dia. Karena yang ada di
pikiranku adalah, ia sahabatku, dan kami akan menjadi yang terbaik
bersama-sama.
Kehadirannya di sampingku selalu memotivasiku untuk
bersemangat. Ia mungkin salah satu alasanku untuk hidup selain balet.
Namun, ia dan belat saling berkaitan. Penari balet yang mengenalkanku
pada tarian eropa ini adalah dia. Dia yang sudah hebat sejak kecil.
“Minum dulu! Pasti capek.”, ia menyodorkanku sebotol air mineral.
Aku menerimanya sambil tersenyum. Ia duduk di sampingku
dan mulai bercerita. Sesaat kemudian ia bangkit lagi dan mulai berlatih
tunggal di depan semua murid. Lenggak-lenggok gerakannya benar-benar
menyihir semua mata. Latihan ini untuk penampilan tunggalnya di pentas
mendatang. Aku mendorongnya agar tampil tunggal. Awalnya ia mengajakku
turut serta, tapi aku tidak mau, aku harus membiarkan bakatnya melusut
tanpa ada aku yang menghambatnya.
Setelah latihan yang menyenangkan, kami pulang bersama.
Ia terus bercerita sepanjang perjalanan. Aku mendengarnya hanya diam dan
tersenyum. Aku memang tak banyak bicara bila di sampingnya, aku hanya
berusaha menjadi pendengar yang baik untuknya, setelah semua perhatian
yang ia lakukan untukku.
“Pentas tinggal 2 minggu lagi. Wah, aku sudah gak
sabar!”, ia bercerita dengan semangat. “Bagimana dengan penampilan
tunggalku waktu pembukaan, ya?”
“Pasti hebat.”, aku berusaha membuat ia semakin semangat.
“Iya. Tapi lebih hebat lagi kalau kamu juga ikut tampil.
Tapi tak apa lah. Toh kita juga nanti tampil berdua lagi di akhir, ya
kan?”
Dalam suatu pentas pasti ada 1 sajian yang menampilkan
kami berdua. Seluruh sanggar sudah tahu kami bersahabat sejak lama dan
ingin memanfaatkan keadaan ini untuk membuat sebuah sajian tarian yang
menggambarkan persahabatan kami. Untuk kali ini, kami membawakan tarian
yang agak sulit menurutku. Kami telah berlatih keras dan berharap akan
menjadi sesuatu yang hebat.
“Ren, kamu sampai sini aja! Rumahku kan sudah deket. Kamu langsung pulang aja!”
“Gak ah, aku temenin kamu sampai kamu masuk rumah pokoknya.”
“Gak apa-apa lah, rumahku udah deket kok.”
“Ya udah deh. Daahh. Besok jangan lupa ada latihan lagi ya!”
Aku tersenyum padanya dan berlari menuju rumah. Namun,
mimpi buruk menghampiriku. Benda keras dan besar menabrakku sambil
membunyikan klakson. Suara teriakan keras sahabatku kudengar sekilas di
telingaku ketika kulihat diriku sudah berbaring di tengah jalan. Semua
orang mengelilingiku dan ada yang mengangkatku. Sejak detik itu, aku tak
sadarkan diri.
Saat kubuka mataku, aku merasa ada yang menggenggam
tanganku dan kudengar tangisannya. Rena, ia menangis sampai tak sadar
aku sudah membuka mataku. Dan aku terkejut, melihat balutan perban di
pergelangan kaki kananku. Dan kurasakan sakit luar biasa di balik
balutan perban itu.
“Emma, kamu sudah sadar?”, ia akhirnya menyadari aku
sudah tersadar. Ia mulai menghapus air matanya yang sudah membuat
matanya memerah. “Bagaimana keadaanmu?”
Sakit hatiku melihat Rena menangis karenaku. Aku sungguh
benci melihat air mata yang membasahi pipi sahabatku. Aku ingin
menghapusnya, tetapi tanganku lemah dan sama sekali tak mampu bahkan
untuk digerakkan.
“Kamu.. Tahu aku ditabrak truk tadi? Bukannya sudah
pulang lebih dulu?” Walaupun sangat lemah, aku berusaha bicara padanya.
“Aku perhatikan kamu dari jauh. Untungnya supir truk tadi
mau bawa kamu ke rumah sakit. Syukur kamu sudah gak apa-apa.”, ia
tersenyum padaku dan sinar matanya membuat hatiku nyaman.
“Tapi…”, aku sadar kakiku ada masalah. “Kakiku kenapa? Apa kata dokter?”
Ia terdiam, dan air matanya tumpah lagi. Hatiku semakin
terpukul melihatnya sedih, seakan seseuatu yang besar menimpaku. Ia
bercerita dengan menangis hingga tak seberapa jelas kudengar suaranya.
Hanya kata patah tulang yang kudengar. Aku lemas tak dapat berbuat
apa-apa.
Patah tulang. Sungguh masalah serius, melihat 2 minggu
mendatang aku harus tampil dengan Rena di pentas itu. Perjuanganku
latihan selama 3 bulan sia-sia dengan kecelakaan ini. Aku benar-benar
ceroboh. Hatiku berteriak. Aku sungguh menyesal karena terlalu ceroboh
langsung berlari menyeberang jalan tanpa melihat jalan dahulu. Sekarang
aku membuat semua orang khawatir.
“Jangan menangis Emma! Kamu harus kuat!”, ia menghapus air mataku yang mulai jatuh.
“Maaf buat kamu khawatir. Maaf gak bisa nemani kamu
tampil 2 minggu ke depan, bahkan buat datang untuk lihat kamu tampil.
Aku memang bukan temen yang baik. Aku terlalu ceroboh.”
Ia hanya bisa menangis. Tapi dari tangisannya, kulihat ia
sangat menyayangiku, dan aku sangat bersyukur memiliki sahabat
sepertinya.
Seminggu berlalu setelah kecelakaan menyeramkan itu. Rena
selalu datang untuk menemaniku terapi. Ia menguatkanku dan membuat aku
merasa yakin kalau aku bisa sembuh. Waktu 2 minggu yang tak mungkin
bagiku untuk kembali sembuh serasa mungkin ketika aku melihat
senyumannya melihatku berangsur-angsur membaik.
Seminggu ini, aku sudah bisa berjalan walaupun perlahan
dan tidak bisa berdiri terlalu lama. Dokter geleng-geleng kepala melihat
senyum ceriaku setiap hari dan melihat perkembanganku yang sangat cepat
membaik. Aku memaksa dokter untuk datang ke sanggar, ganti menemani
sahabatku berlatih.
Akhirnya aku boleh ke sanggar. Aku masuk dan benar, di
sana ada Rena. Ia terkejut melihatku memasuki ruangan dengan jalan kaki
walaupun memakai tongkat. Ia melambaikan tangan sangat gembira
melihatku. Pelatihku juga melihatku dengan pandangannya yang tetap
dingin, seperti biasanya. Ia berteriak dari jauh, “Nona, masih berani
kah kau datang ke sini setelah kecerobohan yang kau lakukan?”
Aku terdiam. Ya memang salahku, tapi omongannya memang
keterlaluan menusuk, dan selalu begitu. Aku mendekat perlahan dan ia tak
menggubrisku.
“Sudahlah. Mari kita mulai latihannya, Rena.”
Pandangan Rena masih lekat ke arahku. Ia merasa kasihan
melihat aku berjalan kesusahan. Ia hendak menolongku dan sang pelatih
sepertinya tahu gerak-geriknya.
“Biarkan saja dia! Kita siapkan tarian tunggalmu saja. Lagi pula penampilanmu dengannya sudah di cancel.”
Aku terdiam dan badanku serasa lemas mendengar perkataan
tajam itu. Aku tak tahu mengapa aku merasa sedih dan sangat menyesal,
padahal aku tahu kalau penampilanku memang akan benar di cancel.
“Maafkan aku, Emma.”, ia berbisik ke arahku dengan pandangannya yang lembut.
Aku harus kuat! Bagaimana pun, aku harus bahagia melihat
sahabatku yang akan tampil tunggal, dan aku harus menyemangatinya, bukan
menjadi beban baginya. Gerakannya memang benar-benar memukau. Rasa
sakitku di kakiku seakan hilang, terbayar melihat penampilan sahabatku
layaknya seorang bintang.
Waktu yang ditunggu pun tiba. Karpet merah ditebar di
tengah ruangan. Bunga-bunga ucapan digelar di sepanjang pintu masuk.
Lampu bewarna-warni menerangi seisi ruangan. Pentas yang menjadi
impianku selama ini, tarian yang belum pernah kubawakan sebelumnya
seakan mimpi saja, aku tidak bisa menjalaninya. Rasa putus asa
meliputiku lagi. Seharusnya aku tidak boleh begini, aku harus senang
melihat sahabatku hari ini tampil.
Akhirnya ia tampil. Sorakan dan tepuk tangan dari ratusan
orang menyertai seluruh rangkaian tariannya yang sangat indah.
Ternyata, penampilan tunggalnya itu adalah tarian yang seharusnya
kubawakan bersamanya, namun dirangkai menjadi tarian tunggal.
Penampilannya sungguh memukau, dan aku membayangkan bila aku berada di
sampingnya, menari dengannya juga.
Selesai penampilannya, pembawa acara menanyainya beberapa
pertanyaan. Ia menjawabnya dengan wajah berseri bangga telah berhasil
membawakan tarian level tinggi itu. Dan sampailah pada pertanyaan
terakhir,
“Tarian ini akan kau persembahkan untuk siapa? Apakah orang itu ada di sini?”
“Iya orang itu ada di sana.”, ia menunjuk ke arahku.
Kupikir ia tidak akan tahu aku hadir di situ di tengah ratusan kepala
yang menutupiku. Dan aku tak menyangka tarian itu ia persembahkan untuk
aku.
“Emma sahabatku.”, ia melanjutkan. “Ia yang harusnya
tampil denganku di atas sini. Karena kecelakaan ia tidak bisa. Namun ia
lah alasanku untuk tetap berlatih dan membawakan tarian ini.”
Air mataku jatuh terharu mendengar suaranya yang begitu
tulus. Ia tak mau tarian kami di cancel penampilannya. Ia hanya akan
membawakan tarian itu walaupun sendirian, dan itu agar aku dapat
melihatnya. Agar aku tahu bahwa latihan yang kami lakukan selama ini
tidak sia-sia karena tarian itu tetap tampil.
“Maju ke depan Emma!”
Ia menyuruhku maju ke atas panggung. Aku maju perlahan
dituntun pantitia dan naik ke atas panggung. Ia memelukku di depan orang
banyak dan berbisik di telingaku, “Terima kasih. Kamu sudah jadi
inspirasi untuk aku.”
Sebulan kemudian kakiku sudah kembali normal. Aku senang
karena akhirnya aku dapat kembali ke sanggar untuk berlatih lagi.
Melihatku datang kembali, pelatih melirikku sengit dan bicara padaku
tanpa melihatku, “Awas sampai kau lakukan lagi kecerobohanmu!”
Mendenger itu, Rena terkikih-kikih. Ia memukul pundakku
keras. Aku heran melihatnya begitu senang. Senang melihatku sudah sembuh
lagi. Aku memang sembuh degan cepat. Termotivasi oleh dorongan yang
diberikan Rena padaku.
Setelah berbulan-bulan berlatih di sanggar, kami mendapat
pekerjaan baru lagi, kompetisi balet, dan ketua mengutus aku dan Rena.
Kami berlatih keras dan aku tak mau akan jadi seerti kemarin. Kali ini
aku harus menemani Rena dalam kompetisi ini. Apa lagi ini kompetisi, aku
harus membantu Rena agar kami menang.
Tapi, aku merasakan ada hal yang aneh yang kualami dalam
keseharianku. Aku merasa mudah lemas, dan terkadang pusing. Aku
mengabaikannya karena kupikir hanya masalah sepele. Namun, mengetahui
hal ini, Rena memaksaku untuk periksa ke dokter. Ia sangat
mengkhawatirkanku.
Dan hal yang paling mengagetkan adalah ketika dokter
mengatakan bahwa sakit yang kualami sudah sangat parah. Leukemia.
Penyakit yang kecil kemungkinannya untuk sembuh dan tidak ada obatnya.
Rena menangis dan ia bertanya-tanya, “Dari mana penyakit
itu datang?”, “Kenapa bisa tiba-tiba?”. Aku hanya terdiam, karena hal
ini yang paling aku takutkan. Ibuku penderita leukemia dan akhirnya
meninggal. Sejak saat itu ayah meninggalkanku sendirian dan pergi
menikah dengan wanita lain. Aku takut kalau aku yang keturunan ibu juga
akan terkena penyakit mengerikan ini. Dan ketakutanku benar terjadi.
“Jangan menangis karena aku, Ren!” Aku paling tidak suka melihat Rena menangis karena aku.
“Bagaimana penyakit yang kemungkinan sembuhnya kecil
bisa menimpa kamu. Gak ada obat yang bisa nyembuhin leukemia, Emma.
Gimana aku gak nangis?! Kesempatanku ketemu sama kamu sekarang makin
sedikit.”
Aku terpukul mendengar perkataannya. Rena, ia yang selalu
membuatku tegar kini menjadi lebih lemah dariku. Bagaimana aku bisa
lebih tegar darinya? Bagaimana aku bisa percaya bahwa kemungkinan kecil
aku untuk sembuh bisa terwujud, bila orang yang kupercaya saja tidak
percaya hal itu? Air mata seakan habis dan tak sanggup kuteteskan lagi.
Aku memang tak punya harapan hidup.
Hari-hari kulewati dengan muram. Sudah 3 minggu ini aku
tidak pernah datang ke sanggar untuk latihan, tak tahu bagaimana pelatih
akan uring-uringan tahu kalau aku tak pernah berlatih mempersiapkan
untuk kompetisi. Sudah 3 minggu pula tak pernah kudengar suara sahabat
yang aku percaya, Rena, menyemangatiku lagi.
Sampai suatu hari, saat badanku lemah tak mampu berbuat
apa pun, bahkan untuk bangkit dari tempat tidurku, seseorang mengetuk
pintuku. Mataku terbelalak dan menyuruh orang itu masuk. Ia masuk ke
rumah dan melihatku terbaring dengan tersenyum. Akhirnya aku melihat
senyumannya kembali. Dan itu memampukan aku untuk membalas senyumannya.
“Maafkan aku gak pernah jenguk kamu. Gimana keadaanmu? Sudah lama gak ketemu.”
“Oh iya, ini aku bawa buah untuk kamu. Kamu harus banyak makan ya biar bisa kembali latihan di sanggar.”
“Itu pelatih kita sudah uring-uringan, apalagi kita harus ikut kompetisi itu, 2 minggu lagi.”
“Kamu harus kuat ya! Kita harus bisa menangin lomba itu!”
Melihatnya terus mengajakku berbicara, aku menjadi sangat
senang. Akhirnya matahari menerangiku lagi, walaupun aku hanya bisa
melihatnya beberapa waktu terakhir.
“Emma..”, ia memandangku hangat dan memegang tanganku.
“Walaupun dokter bilang 99,999% orang sakit leukemia itu
berakhir dengan kematian, tapi kamu harus yakin, kalau 0,001%
kemungkinan kamu sembuh itu masih ada.”
“Dan jangan pernah remehkan kemungkinan yang 0,001% itu. Walaupun kecil, tapi itu harapan.”
Kalimat itu membuat air mataku jatuh terharu. Di saat
keadaanku yang tak memungkinkan ini, masih ada irang yang begitu
memperhatikanku. Kalimatnya pun membuatku tegar, dan membuat aku sadar,
aku masih punya harapan walaupun hanya 0,001%.
Berangsur-angsur semangatku pulih, dan badanku kembali
lebih baik, paling itdak sudah tidak gampang lelah. Aku kembali ke
sanggar dan berlatih terus hingga sampai pada hari saat kami tampil.
Juri memandang kami kagum dan bertepuk tangan setelah penampilan kami
usai. Aku sangat bahagia, melihat Rena menggenggam tanganku, membuatku
semakin tegar.
Dan hari pengumuman pun tiba. Aku menyuruh Rena yang
berangkat melihat pengumuman lomba itu, aku memilih istriahat di rumah.
Lagi pula sanak saudaraku datang, jadi ada yang menemaniku di rumah.
Rena bersorak gembira menerima piala besar. Di sana tertulis, juara 1.
“Terima kasih. Ini semua tak dapat kami raih tanpa ada
sahabatku yang berjuang dengan sangat gigih melawan penyakitnya yang
hanya ada 0,001% kemungkinan sembuhnya. Ia berlatih keras untuk ini dan
ia pasti akan sangat senang mengetahui kami jadi juara.”
“Emma, aku menyayangimu. Kamu harus berusaha untuk
sembuh! Sedikit harapan membawa kamu untuk tetap tegar menghadapi
penyakitmu.”
Kata-katanya mendapat tepuk tangan seluruh ruangan saat
pengumuman pemenang itu. Ia pulang dengan gembira dan segera ingin
sekali menunjukkan piala itu padaku. Ia ingin membuatku lebih tegar
dengan kemungkinan 0,001% itu.
Tapi, ketika sampai di rumahku, ia telah melihat
berbondong-bondong orang keluar masuk dengan meneteskan air mata, mereka
tetanggaku. Aku di sini, berdiri di samping jasadku melihat ia datang
membawa piala itu. Aku mengucap terima kasih padanya, tapi ia tak dapat
mendengarku, karena dunia kami telah berbeda.
“Emma, kenapa kamu meninggalkan aku tanpa pamit?” ia menangis keras di depan jasadku.
Walaupun pada akhirnya aku telah pergi, tetapi aku masih
sempat percaya, bahwa sekecil apapun harapan itu, itu masih dapat
terjadi. Aku masih sempat berjuang melawan sesuatu yang 99,999%
membuatku lemah. Dan betapa beruntungnya aku memiliki seorang sahabat
yang selalu menegarkanku di saat keadaanku tak memungkinkan.
Semoga ia dapat selalu tahu, bahwa aku selalu
menyertainya di dalam hari-harinya, bahwa aku selalu ingin ia menjadi
yang terbaik. Aku ingin, dari tempat penuh ketenangan ini, melihat ia
benar-benar tampil sebagai seorang ballerina hebat. Aku ingin ia tetap
berjuang seperti aku berjuang melawan penyakitku.
Walaupun sekecil apapun harapanmu, bahkan bila hanya ada
0,001% kemungkinan, jangan pernah sia-siakan itu. Karena harapan
tetaplah harapan yang selalu membuatmu menjadi berhasil 100%.
SUMBER:
http://demesdharmesty.wordpress.com/2012/04/01/cerpen-harapan-kecil-yang-membuat-berhasil/